22.5.13

“Positive Thinking Ditinjau dari Surah Al Hujurat ayat 12”


A. kandungan isi dan penjelasan dari surah al hujurat ayat 12
Asbabun-Nuzul surah Al Hujurat ayat 12 dikisahkan dalam suatu riwayat tentang 2 orang sahabat Nabi SAW yang menggunjing seorang temannya. Peristiwa itu bermula dari kebiasaan Nabi SAW saat melakukan perjalanan, dimana Baginda selalu menggabungkan seorang lelaki miskin kepada dua orang lelaki kaya, dimana lelaki miskin ini bertugas untuk melayani mereka.
Dalam kasus ini, Baginda kemudian menggabungkan Salman kepada dua orang lelaki kaya. Singkat cerita, pada saat 2 orang lelaki kaya tersebut lapar (tidak ada lauk maupun makanan yang dpt dimakan) maka mereka menyuruh Salman untuk meminta makan kepada Nabi SAW. Setelah bertemu Nabi, Baginda berkata kepada Salman, "Pergilah engkau kepada Usamah bin Zaid, katakanlah padanya, jika dia mempunyai sisa makanan, maka hendaklah dia memberikannya kepadamu"
Setelah bertemu dengan Usamah, beliau mengatakan bahwa beliau tidak memiliki apapun. Akhirnya Salman kembali kepada kedua lelaki kaya tersebut dan memberitahukan hal itu (tidak adanya makanan). Namun kedua lelaki tersebut berkata, "Sesungguhnya Usamah itu mempunyai sesuatu, tapi dia itu kikir" Selanjutnya mereka mengutus Salman ketempat sekelompok sahabat, namun Salman tidak menemukan apapun di tempat mereka.
Akhirnya kedua lelaki tersebut memata-matai Usamah untuk melihat apakah Usamah memiliki sesuatu atau tidak. Tindakan mereka ini akhirnya terlihat oleh Nabi SAW, dan Baginda bersabda, "Mengapa aku melihat daging segar di mulut kalian berdua?" Mereka berkata, "Wahai Nabi Allah, demi Allah, hari ini kami tidak makan daging atau yang lainnya." Baginda SAW bersabda, "Tapi, kalian sudah memakan daging Usamah dan Salman". Maka turunlah ayat ini.

Isi kandungan surah al hujarat ayat 12 :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sesungguhnya prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dari ayat di atas ada 3 (tiga) perbuatan yang harus dihindari oleh orang-orang yang beriman. Ketiga hal tersebut adalah :
a.      Berprasangka buruk
b.      Mencari-cari kesalahan orang lain
c.       Menggunjing orang lain
Ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yaitu Bermula dari prasangka buruk (dari dalam hati), lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, kemudian diteruskan dengan tindakan (Action) seperti hujatan, cercaan dan makian.
Buruk sangka adalah dosa, karena ia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan sangkaan buruk terhadap keluarga, kerabat, dan orang lain tidak pada tempatnya, sebab sebagian dari prasangka itu adalah murni perbuatan dosa dan bisa memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang berbaik.
Dengan demikian prasangka yang dimaksud disini adalah prasangka yang tuduhan kecurigaan dan adanya sesuatu yang perlu diwaspadai. Bila orang yang kita curigai ini zahirnya baik, tidak ada cerita/ informasi sebelumnya tentang keburukan yang dilakukan maupun tabiatnya yang tercela serta orang tersebut adalah orang baik maka tidak boleh berprasangka buruk, akan tetapi apabila orang tersebut terkenal akan keburukannya, suka menipu, membuat masalah, tabiatnya yang buruk maka diperbolehkan kita untuk berhati-hati sebagai sikap kewaspadaan.
Seorang mukmin tidak pantas merobek-robek harga diri dan kehormatan orang lain hanya karena sebuah prasangka atau isu  yang beredar. Dengan buruk sangka akan melahirkan beberapa hal yang negatif antara lain: pola komunikasi yang terbangun di atas pondasi kedustaan, serang menyerang tudingan, redupnya rasa saling percaya antar sesama, kebencian, permusuhan dan saling memboikot menjadi hal yang lumrah dan biasa. Padahal kesemuanya itu menjadi faktor-faktor yang melemahkan Ukhuwah Islamiah dan menghilangkan wibawa mereka di hadapan umat-umat lain.
Salah satu bentuk buruk sangka adalah Membesar-besarkan kesalahan orang lain. Seperti yang diketahui, setiap ucapan yang kita dengar memiliki dua penafsiran, penafsiran positif dan penafsiran negatif. Mendahulukan prasangka baik (Positive thinking) terhadap sesama, tidak menerka-nerka niat dan maksud terselubung pelaku, serta menghukum orang berdasarkan prilaku yang zhahir menjadi kewajiban kita sebagai seorang Muslim. Hal ini sesuai dengan riwayat :
Sesungguhnya Allah berkata: “Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku” (HR.Muslim)
Hadist diatas mengandung makna “Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka lihatlah seberapa tinggi kedudukan Allah dalam hatinya. Demikian pula, siapa yang ingin mengetahui seberapa dekat Allah dengan dirinya, maka lihatlah seberapa dekat Allah dengan hatinya”
Lewat hadis ini Rasulullah SAW pun mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir positif dalam segala hal. Karena semua kejadian, apa pun itu, berada sepenuhnya dalam genggaman Allah SWT dan terjadi karena seizin-Nya. Dengan berpikir positif, seseorang akan mampu menyikapi setiap kejadian dengan cara terbaik. Selain itu, ia pun akan mampu menghadapi hidup dengan optimis. Karena ia dekat dengan Allah Dzat Penguasa yang ada. Karena itu, Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa orang beriman itu tidak pernah rugi, diberi nikmat dia bersyukur. Syukur adalah kebaikan bagi dirinya, diberi ujian dia bersabar, dan sabar adalah kebaikan bagi dirinya.
Dalam hadis tersebut tersirat sebuah ajakan agar kita berusaha selalu dekat dengan Allah SWT, berbaik sangka (husnudzan/positive thinking) dan tidak berburuk sangka (su’udzhan/negative thinking) kepada-Nya. Karena Allah SWT “berbuat” sesuai prasangka hamba-Nya. Bila seorang hamba berprasangka bahwa Allah itu jauh, maka Allah pun akan “menjauh”, sebaliknya bila ia berprasangka bahwa Allah itu dekat, maka Allah pun akan “mendekat” kepadanya.
Positive thinking / berprasangka baik pada seluruh keadaan tentu tidak akan mudah untuk dilakukan tanpa memiliki pemahaman dan telah membangun keyakinan yang kuat bahwa Allah senantiasa menginginkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta seluruhnya.

B.  Teori tentang positive thinking
Sebuah penelitian yang dilakukan Harvard University membuktikan bahwa kesuksesan seseorang 85 persen ditentukan oleh sikap, dan 15 persen sisanya ditentukan oleh keterampilan dan intelektualitas. Sikap itu sendiri dibentuk oleh pikiran. Dengan kata lain, 85 persen kesuksesan dan kegagalan ditentukan oleh kualitas pikiran. Dalam konteks bahasan ini, kesuksesan untuk dekat dengan kepercayaannya sangat dipengaruhi oleh sejauh mana seseorang berpikir positif tentang apa yang sudah dipercayainya.
Albrecht (1980) berpendapat bahwa berpikir positif memiliki kaitan dengan perhatian yang positif (positif Attention) dan perkataan yang positif (Positive Verbalization). Perhatian yang positif berarti memusatkan perhatian pada hal-hal yang positif
Individu yang berpikir positif cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal yang positif terhadap keadaan diri, orang lain bahkan pada peristiwa yang sedang dialaminya dan menafsirkan bahwa permasalahan itu sifatnya sementara, sebaiknya orang berpikir negatif meyakini bahwa permasalahan mereka akan berlangsung lama dan menghancurkan segala yang telah mereka lakukan dan menjadi tidak terkendali (susetyp, 1999)
Ada dua jenis pola pikir yang negatif dan pola pikir yang positif. Pada individu yang memiliki pola pikir negatif cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal negatif dan menggunakan bahasa yang negatif dalam mengungkapkan atau mengekspresikan isi pikirannya, sedangkan individu yang berpikir positif tidak mudah menyalahkan dirinya sendiri ataupun lingkungannya ketika terjadi kesalahan atau permasalahan (Huffman, et al, 1997)
Cara berpikir positif selalu didasarkan fakta setiap permasalahan pasti ada pemecahannya dan suatu pemecahan yang tepat selalu melalui proses intelektual yang sehat. Cara berpikir yang lebih menekankan pada hal-hal yang positif , baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi-situasi tertentu. Pemikiran yang positif akan melihat kesulitan dengan cara pandang yang gamblang dan polos sehingga tidak mudah terpengaruh dan menjadi putus asa oleh berbagai rintangan maupun hambatan yang dihadapi (Peale, 2007). Adapun aspek-aspek positive thinking diungkapkan oleh Albrecht (1980) adalah sebagai berikut:
1.      Harapan yang positif, lebih dipusatkan pada hal-hal yang positif sehingga individu yang berpikir positif akan mempunyai cita-cita dan harapan yang positif
2.      Afirmasi diri yang lebih memusatkan perhatian pada kekuatan diri serta melihat diri secara positif
3.      Pernyataan yang tidak menilai (non judgement thinking) merupakan suatu pernyataan yang lebih menggambarkan keadaan diri daripada menilai keadaan dan aspek ini juga berperan dalam menghadapi keadaan yang cinderung negatif
4.      Penyesuaian diri yang realistik (realistic adaptation) yaitu mengakui kenyataan dan segera berusaha untuk menyesuaikan diri dari penyesalan rasa frustasi dan menyalahkan diri sendiri.
Individu yang berpikir positif akan mengarahkan pikiran-pikirannya pada hal-hal yang positif, akan membicarakan kesuksesan daripada kegagalan, kebahagiaan daripada kesedihan, cinta kasih daripada kebencian, keyakinan daripada ketakutan, kepuasan daripada kekecewaan sehingga individu yang berpikir positif akan dapat menghadapi permasalahannya dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil disekitarnya (peale, 2007; Albrecht, 1980)

C.  Analisis Psikologi tentang positif thinking berdasarkan surah Al-Hujurat ayat 12.
Dalam surah Al-Hujurat ayat 12 Allah SWT melarang berpikiran negatif atau negative thinking artinya allah menyukai orang-orang yang memiliki cara pandang/pensikapan yang baik terhadap permasalahan yang dihadapinya. Menurut pandangan Islam, ada tingkatan penyikapan berpikir positif terhadap suatu keadaan. Yang pertama adalah qona’ah, yaitu menerima apa yang dianugerahkan Allah sebagai suatu kewajaran, baik itu positif maupun negatif. Secara etimologis artinya adalah “kepuasan hati” atau dapat diartikan secara arbitrer dengan “merasa cukup”.
Kedua, istiqomah yang secara harfiah berarti “tegak berdiri” atau “tidak bergeser” atau dengan kata lain konsisten. Para ulama mengkaitkannya dengan tetap berpegang teguh kepada aturan agama. Namun secara arbitrer kata “konsisten” dalam hidup secara luas bisa dipakai. Ketiga, tawakal yaitu memasrahkan hasil suatu ikhtiar atau usaha kepada ALLAH. Kita sering mendengar ungkapan: manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.
Al-Quran sudah menjelaskan teori tentang positive thinking jauh sebelum teori tersebut ada. Salah satu kelemahan dari teori positive thinking Albrecht (1980) adalah tidak menyertakan keyakinan atau kepercayaan dalam hubungan yang vertikal. Teori tersebut lebih menekankan hubungan sosial, manusia adalah makhluk yang kuat dengan pikirannya sehingga cenderung memunculkan stigma atheisme. Padahal urgensi akan kepercayaan pada tuhan akan memberikan kontribusi bagi manusia seperti : Keimanan dan Ketaqwaan Meningkat (iman berkorelasi positif terhadap perilaku yang positif), Kebebasan dan Ketenangan (Bebas dari ketergantungan dan keterikatan pada selain Allah), Barokah dan kehidupan yang Baik (dengan memiliki perilaku positif maka memperat silaturahmi).
Selain itu dalam teori Albrecht (1980) tidak menyebutkan unsur kewaspadaan termasuk bagian dalam positive thinking, karena ditinjau dari sudut pandang bahasa terdapat perbedaan antara waspada dengan negative thinking. Sehingga dalam teori tersebut cenderung menganggap semua adalah baik.
Alqur an menyebutkan tentang kewaspadaan sebagai berikut:


Artinya    : Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Berhati-hati yang disebutkan dalam ayat ini adalah bagian dari sikap hadzar. Sikap ini akan menuntut seseorang untuk lebih mentaati Allah dan RasulNya. Dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya akan memberi pengaruh yang besar kepada pelakunya untuk senantiasa bersikap hadzar dan menghindar dari segala bentuk penyelewengan dan penentangan terhadap ajaran Allah dan RasulNya.
Secara global, berdasarkan analisis terhadap ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang hadzar, terdapat dua hal yang dituntut dari kita untuk senantiasa berhati-hati, selalu waspada dan mawas diri. Pertama, waspada dan mawas diri dari segala bentuk kemaksiatan agar terhindar dari murka dan azab Allah. Kedua, waspada dan berhati-hati terhadap musuh, baik musuh yang nyata maupun musuh yang tidak nyata.
Dalam menjelaskan Positif Thinking Ayat suci alquran lebih kompleks dan rinci dibandingkan dengan teori Albrecht (1980). Mengingat keduanya berpesan tentang positive thinking karena mempunyai peran besar dalam kehidupan yaitu: Membuat Hati menjadi Senang dan Tenang, Mudah Berbuat Baik, memiliki banyak teman, memberi motivasi dalam diri, meningkatkan optimisme, menghindarkan stres, memunculkan sikap syukur kepada allah dll

Daftar Pustaka

Albrecht, K 1980. Brain power: Learn to Improve Your thinking Skill. Prentice. Inc. Englewood Cliffs. New york.
Nurindah, Mutya. 2010. Pengaruh pelatihan berpikir positif untuk meningkatkan optimisme pada remaja yang tinggal di panti sosial. Thesis (tidak diterbitkan).Yogyakarta. Universitas Islam Indonesia
Paele, Norman vincent. 2007. the Positive principle today.  Yogyakarta : media abadi.
Sharma.s.p.2002.positive thinking. Bandung:nuansa cendikia.
Suryadipura, Paryana. 1993. Alam pikiran. Jakarta. Bumi aksara.

1 komentar: